jump to navigation

Dilema Pengendara Motor Oktober 24, 2011

Posted by Maskur in MOTOR.
Tags: , , , , ,
trackback

Pernahkah anda merasakan dilema. Ketika di pikiran kita sudah “lurus” mengenai safety riding dan sudah menerapkannya dalam keseharian kita. Namun kita menemui suatu keadaan dimana merupakan sesuatu yang baik, tetapi hal yang baik tersebut bertentangan dengan hati kita mengenai safety riding.

Contohnya adalah sebagai berikut:

Si Yanto adalah seorang pemuda bekerja di kota kabupatennya. Kebetulan dia tinggal di desa dan setiap hari melintasi jalan desa. Dia kebetulan cukup intens mengenai safety riding. Setiap riding Mega Pro primusnya harus pakai helm, jaket, glove dan sepatu. Walaupun di desa tidak pernah ada polisi yang melakukan operasi, dia tetap memikirkan keselamatan dirinya.

Suatu saat sewaktu pulang kerja, dia melihat tampak seseorang yang dikenalnya tampak duduk di depan suatu warung tampak gelisah. Kondisi sudah sore dan sudah mulai sepi. Orang tersebut adalah Yuni, adik kelasnya semasa SMA dan masih tetangga desa. Semasa sekolah Yanto kebetulan seneng juga melirik Yuni karena biasanya naik satu Angkutan Umum yang sama, namun tidak berani untuk lebih. Yanto yang jalan pelan kemudian berhenti dan menanyai Yuni:

Yanto : “Lho, sudah sore kok masih di sini Yun, apa bapakmu belum njemput ?”

Yuni : “Eh mas Yanto, iya nih, tadi habis pulang kerja diajak teman-teman kantor ke Mall dulu, lupa ngabari bapak. Eh sekarang ditelpon ndak diangkat-angkat, mana sudah mau magrib lagi.”

Yanto dengan malu-malu ngarep plus agak sungkan-sungkan namun seneng kemudian menawarkan bantuan. (Kesempatan jadi pahlawan nih….pikir Yanto).

Yanto : “Ya udah, bareng aku aja yuk, nggak ada yang marah kan?” (kata-kata pancingan ditebar)

Yuni : “Mmm….ndak ngerepotin nih?”

Yanto : “Ndak papa…ngomong-ngomong kamu bawa helm ndak?”

Yuni : “Ndak bawa mas, wong cuma dari sini ke rumah juga ndak ada polisi kok.”

Yanto kemudian termangu sesaat…(Waduh gimana nih, aku kan harus selalu safety in riding, kalo memboncengkan orang tanpa helm…apa kata Mbah Edo :mrgreen: …tapi…ini kesempatan buat membuka jalan. Aku jomblo dia juga sepertinya masih sendiri…sudah sama-sama kerja….hmm..gimana nih….)

Yuni : “Gimana mas?”

Yanto kaget, dan karena sudah membayangkan bunga-bunga nan indah di pikirannya, maka segera saja dia menjawab…

Yanto : “Nd..ndak papa..ayo naik aja di motor jelek ini..bener nih ndak ada yang marah?”

Yuni : “Ndak ada yang marah kok..jangan-jangan pacar mas Yanto yang marah nih?..”

Yanto : “Wah orang jelek gini mana ada yang mau..”

============================================================

Dan seterusnya, silahkan tonton kisah sinetron selanjutnya di televisi langganan anda.. :mrgreen:

============================================================

Pernahkah anda menghadapi dilema seperti cerita Yanto di atas? Bagaimana sebaiknya kita bersikap jika kita berniat menolong seseorang yang kita kenal dengan memboncengkannya namun berlawanan dengan pendapat hati kita?

WordPressed by Android on The Galaxy

Komentar»

1. tl - Oktober 24, 2011

prinsipku,siapapun yg mbonceng aku harus pake helm.gak ada toleransi.

Maskur - Oktober 24, 2011

Prinsip yg bagus, tapi pernahkah mengalaminya…

««Dipun kirim saking Cilacap Bercahaya ngagem Gmail kangge Android»»

2. Download Ebook Gratis - Oktober 24, 2011

kiye critane rika mboncengna sapa Kang Maskur ..
mbasanu anu kisah nyata :lol:

Maskur - Oktober 24, 2011

Sekedar imajinasi….

««Dipun kirim saking Cilacap Bercahaya ngagem Gmail kangge Android»»

3. Dismas - Oktober 24, 2011

Nggak apalah, lanjutkan… Tapi cukup jalan pelan sekitar 30 km/jam… hehehe :lol: .

Maskur - Oktober 24, 2011

30 kpj trus sambil ngobrol…. Wah makin asyik…

««Dipun kirim saking Cilacap Bercahaya ngagem Gmail kangge Android»»

4. hanx - Oktober 24, 2011

pernah terpaksa begitu sama bokap,akhirnya aku jalan cuman 20kpj aja kayak orang naik sepeda otnhel….

Maskur - Oktober 24, 2011

Kalo orang tua juga susah kadangkala dalam mengutarakannya

««Dipun kirim saking Cilacap Bercahaya ngagem Gmail kangge Android»»

5. redbullrider - Oktober 24, 2011

ane malah kebalikan, nawarin tumpangan ke temen yg lagi jalan kebetulan tujuan kita sama, dia malah ga mau soale ga ada helm. padahal jarak tujuan deket ga sampe 2 kilo.

Maskur - Oktober 24, 2011

2 kilo itu jauh mas….

««Dipun kirim saking Cilacap Bercahaya ngagem Gmail kangge Android»»

6. TDF - Oktober 24, 2011

sering :mrgreen: tapi gak ada bumbu jomblo2an

7. Abu Tanisha - Oktober 24, 2011

dilemaku 1 tahun yang lalu

Maskur - Oktober 24, 2011

Kalo sekarang?

««Dipun kirim saking Cilacap Bercahaya ngagem Gmail kangge Android»»

8. wendakalubis - Oktober 24, 2011

Hehehe,ceritanya mengingatkan masa SMA :D

Maskur - Oktober 24, 2011

Tapi jaman SMA aku nggak terlalu paham safety riding, pake helm karena takut polisi..

««Dipun kirim saking Cilacap Bercahaya ngagem Gmail kangge Android»»

9. Juragan Monyet - Oktober 24, 2011

Pernah mbah… :malu:
TKPnya di kantor, ada adik alumni kampus yang sekarang jadi kolega. doi biasanya jalan ke prapatan buat naik bis, tapi karena jauh, yaah ane boncengin aja sampe prapatan.. :p

10. edo - Oktober 24, 2011

realita. butuh pendekatan bahwa memakai helm adalah kebutuhan. tulisan yg inspiratif. salam

Maskur - Oktober 24, 2011

Masih banyak yang ga butuh helm…butuhnya:” tidak kena tilang”

««Dipun kirim saking Cilacap Bercahaya ngagem Gmail kangge Android»»

11. uungferi - Oktober 24, 2011

Wowwww,… Sangat dilematis,… Disaat kita sudah safety namun orang lain masih belum safety,…

Maskur - Oktober 24, 2011

Apalagi ada benturan moral…

««Dipun kirim saking Cilacap Bercahaya ngagem Gmail kangge Android»»

12. ricthofen - Oktober 24, 2011

selalu siap sedia helm di dalam box wkwkwkw… :D

Maskur - Oktober 24, 2011

Susah……

««Dipun kirim saking Cilacap Bercahaya ngagem Gmail kangge Android»»

13. at0zz - Oktober 25, 2011

pake yg helm in,,,,
jadi kemana-mana bawa helm,,
hhehehhe

Maskur - Oktober 25, 2011

mahal Ooom… yang lama juga belum lunas

14. Yulian Yogadhita (@ygdt) - Oktober 25, 2011

bawa helm dua apa susahnya sih, katanya sering ikutan safety riding, biasanya kan sok dapet helm gratisan dong…he he he, kalo saya sih tegas, karena dalam pikiran saya sayalah yang bertanggung jawab kalau sampai ada apa-apa sama pembonceng nanti…

Maskur - Oktober 25, 2011

Lha kalo tiap hari sendirian sepertinya tidak efektif bawa helm 2. Ini kalo kejadiannya tiba-tiba Kecuali termasuk orang yang “luar biasa”

15. Yulian Yogadhita (@ygdt) - Oktober 25, 2011

saya pernah kayak gitu, cewek, cakep, tapi nekat! ya sudah saya minta doi kirim sms dulu ke ortu n sahabat deketnya kalo ada-apa bukan saya yang nanggung, alhamdulillah sih gpp sampe rumahnya tapi ya itu semenjak kejadian itu saya selalu bawa helm dua, daripada ada penumpang cakep kita anggurin kan..

Maskur - Oktober 25, 2011

Berarti termasuk biker siap menolong……

16. Igfar Pramarizki - Oktober 25, 2011

pura-pura gag liat aja.. selesai.

Maskur - Oktober 25, 2011

lha kalo naksir… :mrgreen:

17. aji - Oktober 27, 2011

pngen pnya pcar lagi.huft

18. Mass Bro - Oktober 28, 2011

Pernah mass…. sama temen kuliah…. dia yg minta anter.

waktu itu ga’ pake helm, maka dari itu sya pilih jalan tikus, yg muter2 & jauh,,, eh…….. bsoknya dia ga’ mau ikut lgi krna jalur yg qu ambil terlalu jauh.

19. kudalumping - Oktober 29, 2011

hemm,, pernah si,,, tapi ane mah ga ada rasa dilema,, samberrr,, :p

20. Diposedicigp8 - November 6, 2011

jiakakakak, apik apik :D

21. irvie_cix - November 7, 2011

Kl gt lbh baik sedia helm tuw di box motornya.. kalau2 akan ad lagi org yg bth tebengan :D


Balas Komen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.377 pengikut lainnya.