[Bahasa Jawa] Apa Sih Bedanya “d” Dengan “dh” Februari 24, 2011
Posted by Maskur in PENGETAHUAN.Tags: bahasa jawa, huruf d, huruf dh
trackback
Dalam penulisan bahasa jawa latin, kita akan menemui “d” dan “dh”. Huruf “d” adalah pengucapan tipis, contohnya : degan (kelapa muda), dudu (bukan), adus (mandi), dodol (berjualan) serta wadon (wanita). Sedangkan penulisan “dh” adalah pengucapan tebal, mirip huruf “d” dalam bahasa Indonesia. Contohnya adalah : wedhus (kambing), endhas (kepala), godhong (daun) serta bodho (tidak pintar).
Karena pelajaran Bahasa Jawa sepertinya sekarang hanyalah untuk pelengkap, sepertinya hal ini kurang diperhatikan. Malah sering ditemui penulisan yang terbalik, “dh” untuk pengucapan tipis sedangkan “d” untuk pengucapan tebal. Ini pengaruh penulisan bahasa Indonesia dimana sepertinya tidak mengenal d tipis.
Hal ini berpatokan pada Pelajaran Bahasa Jawa yang saya terima, apakah ini baku atau ada kurikulum daerah lain yang berbeda, saya kurang tahu. Namun yang saya ingat, Pelajaran Bahasa Jawa yang saya terima mengacu kepada Bahasa Jawa Jogja-Solo.







opo yo bentuke sing bedo..
podo roso opo rosa
12345678910
pakde, saya ini perantauan dari barat pulau jawa, tapi di jatim sama temen2 pake bahasa jawa sehari-hari (kalo kromo inggil ra mudeng blas)

mo nanya kalo artine tilis dalam bahasa sehari-hari itu apa yach?
dalam pengucapan:”mengkok tak tilis gawe shock yss”
matur nuwun before..
yups… Benul, dadi kemutan Bu Nur nang smp1 banyumas kiye, emene poll mbi nyong….
“Pelajaran Bahasa Jawa yang saya terima mengacu kepada Bahasa Jawa Jogja-Solo.”
pantes, aku akeh konco kuliah orang tegal brebes, bahasane beda karo bahasa jawaku tapi selalu nyambung klo ngobrol karo aku.. hehe
bahasa kedua suriname juga Bahasa Jawa Jogja-Solo lho mas
http://rtv-garuda.com/webplayer.html
Jas Bukak Iket Blangkon
Sama Jugak Sami Mawon
seratan ingkang sae sanget pakdhe, menawi saget asring-asring ndamel seratan kados mekaten supados tiyang jawi mboten ical jawinipun! nuwun!
sing penthing ngerti karepe… <- nulis "th" bener ora kang?
hayo…sing bener “pak de” opo “pak dhe”?
Yang bener de pak…
kalah karo bhs.english….cah sekolah today cas-cis-cus ala Cinca Lauya….jyadul ah….!!!
yang mas maskur tulis “udu”, seharusnya “dudu”. udu itu hanya dialek lokalan, bukan bahasa jawa baku/standar. begitu pula “ndhas” seharusnya “endhas”. sekedar informasi, saya “kebetulan” terlahir sebagai kemenakan almarhum bapak R Poedjosoebroto, penulis Puspo Pusoko, Pinter Moco, Pinter Boso.
kepada #99 bro, roso (mungkin maksudnya :”rasa”) beda dengan “rosa” = kuat (tenaga). sayangnya, bahasa jawa yang sebenarnya ditulis dengan “a” tetapi diucapkan “o” rendah, bukan o seperti toko, komodo, kalau dituliskan apa adanya seperti aturan huruf jawa yang benar, akan dibaca a oleh yang bukan orang jawa.
Mas Adi Susilo bener. Salah kaprah itu sayang telah dilegitimasi. Misal Kota Solo, seharusnya Sala. Pengucapan huruf “A” dalam Sala ucapannya Sa = ndesO
La = seperti mengucap kata ekO.
*angel tenan nerangke ucapan nganggo tulisan
@abu tanisha
Spertinya yang anda maksud terbalik.
yang medhok itu justru yang “d”
kalo “dh” itu yang diucapkan sama dengan “d” dalam bahasa Indonesia.
Penulisan medhok yang baku adalah medhok bukan medho’.
Lha kalo dodol = jualan berarti kalo untuk dodol Garut penulisannya dhodhol Garut ya? Kan pengucapannya beda. Apa malah kebalik ya?
@adi susilo
wah iya mas, tadi nulis contohnya tidak terlalu mikir, pokoknya yang bunyinya itu.
sudah diralat
kalo ada artikel lain yang seperti ini tolong ditanggapi lagi.
tentang “a” jejeg (a dibaca a) dan o miring (a dibaca o), sebagai orang Banyumas yang pernah 5 tahun di Solo dan 3 tahun di Semarang saya sangat memahami bedanya.
@Kang Nadi
Salah kaprah dan banyak yang tidak tahu. Aku juga bingung kalo ngomong “Solo” itu pake “o” jejeg apa “o” miring. AKhirnya campur-campur, kadang Solo (o jejeg) kadnag Sala (o miring).
@Busa_tio
dodol = berjualan
dhodhol = jenang
sayang ane ga bisa bahasa jawa… jadi ingat pelajaran bahasa daerah….! like
numpang nyales!
http://jheren.wordpress.com/2011/02/24/apa-sich-bedanya/
*mohon saran ane newbie
dh kiy kesannya medho’, beda wedi dengan wedhi
tapi karena adanya perbedaan ini, ilat (lidah) orang jawa dadi medho’, susah ngilagi, yen nang jakarta kethok tenan, opo maneh dikongkon sinau bahasa sunda, wes pasti susah
@zaqlutv
wah basa jawa timuran, yang bersifat khusus juga ku kurang tahu. yang dari jatim saja yang menerangkan.
@Kang Elsa
memang begitu, jawa yang diangap baku adalah versi jogja-solo.
kalo sekarang kurang tahu. pernah dengar di Banyumas menggunakan patokan Banyumas.
@Pak Irawan
insya Allah ada artikel senada yang lain.
@Cak Poer
Penting = important
penthing = aku tidak tahu artinya (mbacanya kaya orang Bali)
jelas Pak Dhe!
ho no co ro ko do to so wo lo po do jo yo ngo
bukannya bahasa indonesia tidak mengenal dh ?
@Anto
lha memang ini basa jawa, “d” di bahasa Indonesia itu “dh” di basa jawa (mayoritas)
Yang ane sering liat salah kaprah tuh malah dari cara orang menuliskan kata2 Jawa… Misal Kota “Solo” harusnya ditulis “Sala” dan salah kaprah lagi bacanya bukan solo=tunggal melainkan solo, huruf “o” nya dieja layaknya huruf “o” pada kata “tolong”, seperti kalo kita orang jawa mengucap kata “salatiga”
@18. dnugros
yang baku :
ha na ca ra ka da ta sa wa la pa dha ja ya nya ma ga ba tha nga
Kalo bahasa banyumas setau ane huruf “a/ha” dibaca “a”, bukan “o”.., trus huruf mati “k” pada akhir kata pada bahasa jawa baku diganti “t” pada bahasa banyumasan.. misal: “dhisik” jadi “dhisit”; “sedhiluk/sedhelok” jadi “sedhilit”; “jarik” jadi “jarit” dll…
@Komengtator
tidak semua seperti itu
bedanya adhi dengan adi opo ya?
*mbuka gugle jawa
@Kang Nadhi
adhi = sodara muda adi = berharga
berarti Nugroho Adhi itu = adiknya Nugroho
**segera siapakan bubur abang putih, ngilangi huruf “h”
Belajar hanacaraka waktu SD 40 tahun lalu, sekarang malah tak bisa sama sekali ….
kalo smsan pake b. Jawa sama temen sering kacau gara-gara antara a dan o. misal aku nulis saka (maksudku dari) dibacanya saka pake a biasa jadi ga ngerti artinya..
tilis iku prokeman..
Boso walikan e, arema jeh..
Contoh: silup, libom, ojob, dll sbgnya
nek ngodhog wedang pripun pak dhe?
jenengku yo pake “dh”. dan aku bangga akan hal itu.
lebih exotic.. mbedani.. dan njawani…
arti kata ‘podo’ sangat berbeda dengan ‘podho’..
es degan = ice the gun
@Pak Iksa
huruf jawa karena jarang dipakai memang rawan lupa.
@Moko
itulah generasi muda sekarang. heheheh yang tua juga ding.
@Bejo
tepat, 100 benar itu “nggodhog wedang”.
@Skyrider
gimana kali diganti juga dengan SKYRIDHER
@RAya
maksudnya “pada” dengan “padha”
Bahasa jawa tu hebat bgt lho, kekayan kosakatanya sgt tinggi, banyak kata tak bisa diterjemahkan dalam bhs Indonesia scr langsung, coz artinya spesifik. contoh “kunduran” mobil. “kunduran” dlm bhs indonesia nggak ada kata penggantinya.
tp wajar. bhs jawa dah berkembang ratusan tahun lebih, sdg bhs Indonesia baru beberapa puluh tahun aja.
Untuk bhs ilmiah sbnrnya bhs jawa lebih mumpuni dibanding dg bhs Ind, setara dg bhs inggris coz kekayaan istilah yg lebih tersedia.
DHUWUR
DHUWUR
DHUWUR
DHUWUR
DHUWUR
DHUWUR
kalo ‘d’ di bahasa jawa, pengucapannya ujung lidah menyentuh gigi depan (gigi tertutup). Kalo gigi terbuka, jadinya ‘t’
kalo ‘dh’: posisi ujung lidah ada di langit2 rongga mulut 
nickname saya ada ‘dh’-nya lho