jump to navigation

Bali Ndesa Apakah Selalu Untuk Mbangun Ndesa? Januari 29, 2011

Posted by Maskur in CERITA, VIEW.
Tags: , , , ,
trackback

Saya masih ingat slogan kampanye calon Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo : Bali Ndesa Mbangun Desa.

Dalam hal ini Pak Bibit yang berasal dari Jawa Tengah ingin kembali dari kota ke desanya (baca dai Ibukota ke Daerah) untuk menjadi Gubernur. Saya kurang tahu untuk membangun atau menguasai Jawa Tengah sebenarnya.

Oke, itu sudah berlalu dan Pak Bibit sudah kembali ke “desa”nya sekarang. Membangunnya saya kurang tahu sudah atau belum. Saya tidak akan membahas itu, namun membahas dua teman saya yang resign dari kantornya yang berprospek besar, padahal masa kerjanya sudah 5 atau 6 tahun dan sepertinya punya “pegangan”. Kantornya adalah BUMN yang bergerak di bidang konstruksi dan kalo tidak salah nomor 1 di Indonesia.

Mengapa saya bisa menyimpulkan mereka sudah punya “pegangan”, karena teman saya yang lain, yang bekerja di bidang yang sama, masa jabatan sama, sama-sama BUMN, namun beda perusahaan, sudah bisa menikmati hidup. Sudah punya mobil, punya kawasaki D Tracker 250 bahkan mengoleksi senjata-senjata aneh yang saya yakin jutaan harganya.

Kembali ke 2 teman saya resign tadi. Sebelumnya saya agak kaget ketika menanyakan kabar dan domisili sekarang, dua-duanya menjawab hal yang sama yaitu : “Jadi PNS di rumah”. Alasannya adalah ingin berkumpul dengan keluarga. Karena mereka selama ini memang terpisah dari keluarga, yang satu divisi luar negeri, satunya di Jakarta.

Ketika menjadi bahasan menarik di milis, akhirnya didapat kesimpulan : Materi Bukan Segalanya.

Dan ada cerita menarik yang bisa dibaca di halaman 2

Halaman-halaman: 1 2

Komentar»

1. Triyanto Banyumasan - Januari 29, 2011

.1.

2. #99 bro - Januari 29, 2011

paling ngak memutar uang di desa..

3. Triyanto Banyumasan - Januari 29, 2011

pengen jg bali ndesa mbangun ndesa, tp bisanya krjanya di sini, dan Alhamdulillah anak isteri menyertai.

Selamat Pakdhe bisa kumpul kembali everyday brsama kluarga jg orang tua…

Maskur - Januari 29, 2011

@Kang Jamin
Lha aku masih di nJakarta je.. :(

4. kurniaprorider - Januari 29, 2011

Duite akeh tape yen uripe dioyak2 koyo Gayus yo ra iso menikmati. Mending kumpul ma keluarga tapi duite akeh,uripe mapan,bojone ayu,anakè akeh..mati masuk surga!

Maskur - Januari 29, 2011

@kurniawan
nah itu hidup ideal

5. marsudiyanto - Januari 29, 2011

Bali nDeso marani kanca2ne diajak kerjo ning kuto…

Maskur - Januari 29, 2011

@Pak Mars
Walah…..urbanisator itu namanya :)

6. vixionr15 - Januari 29, 2011
7. lekdjie - Januari 29, 2011

weh

8. elsabarto - Januari 29, 2011

wis tau ngalami mas, pontang-panting golek duit, tp urip koyo robot, ora bahagia

sing penting tetep ikhtiar tp ora melupakan kebahagian kumpul karo keluarga :)

9. isnuansa - Januari 29, 2011

Sudut pandang yang menarik. Jadi, pensiun dari sekarang, atau nunggu nanti setelah kerja keras?

Hmm, sayang, kisah nelayan itu sepertinya tidak bisa diterapkan ke orang kerja kantoran. Karna 9-5 di kantor, dan perjalanan yang macet, pulang ke rumah anak istri udah tidur, hehe…

10. gaplek mania - Januari 29, 2011

hmmmm.menarik.
dari dulu obsesi saya pengen balik ndesa dan membangun usaha dikampung.tapi sampai sekarang masih bingung.bidang apa yg kira2 bagus dikampung.

11. sobek2 - Januari 29, 2011

Tahun pertama:
Mulai nabung mbangun kandang,..
Tahun kedua:
menyisihkan uang buat nikah, bantu2 orang tua,..
Tahun ketiga:
Kandang sudah jadi elek2an.com, nikah
Tahun ke empat:
Tabungan mulai banyak beli rumah, beli hewan ternak, beli sawah, beli rumah, beli kapal pesiar, beli pesawat, ,magang jadi lurah/kades
Pulang ke desa aman damai sejahtera…
Sayang semua gak realistis kisanak heheheheuw

12. raiderobie - Januari 29, 2011

hmm.. kebanyakan cuma jadi penguasa, jarang yang jadi pemimpin yang ngayomi rakyatnya

13. raiderobie - Januari 29, 2011

hmm… pemikiran mirip mirip kalimat terakhir diatas yang membuat saya resign…

14. pakbambangnunggangjaran - Januari 29, 2011

lo merantau ketika bali ndeso rus buat link, relasi, guyup rukun mulai dari nol, ready / ga terserah yang mo melakukan

Maskur - Januari 29, 2011

Maaf sebelumnya ini artikel yang alurnya kurang runut, maklum sedang tidak konsentrasi antara pikiran awal dengan tengah serta endingnya

@kang Elsa
bisa dishare kisahnya mas, siapa tahu bisa jadi isnpirasi bagaimana caranya menjadi madiri dengan usaha sendiri.
@isnuansa
…atau ada cara lain….
tentang kisah Nelayan, mmmm tidak semua kisah harus diterapkan sama persis dengan aslinya…
@gaplek mania
mungkin bisa belajar mulai sekarang,atau kumpul modal dulu, atau bikin usaha di tempat sekarang, jika sudah maju bisa ditinggalkan agar berjalan sendiri….
tanya kang Barto siapa tahu ada inspirasi.
@sobek2
wah.. proses yang ideal sekali…..masih realistis sebenarnya..
@Raiderobie
maksudnya pengusaha atau merasa berkuasa?
@pakbambangnunggangjaran
agak rancu nih maksudnya

15. Bonsai Biker - Januari 30, 2011

kesimpulan terakhirmu itulo pakde yang membuat saya trenyuh.
Bayangkan 15 tahun yg lalu aku berangkat ke jkt dengan modal dengkul dan baju nempel di badan, hati tak karuan tak pikir memaksakan diri di jakarta lama-lama akan kerasan. sebulan gak krasan tak pikir 2 bulan akan krasan, setahun gak krasan tak pikir 2 thn akan krasan, hingga 15 tahun wis ndue anak 2 tetep ae gak krasan, alesannya 1 jauh dari kampung halaman. akhire cari kerjaan diluar jkt yang memungkinkan bisa sering pulkam. alhamdulillah entuk neng Crbn walau gaji cuman 1/3 dari jkt sing penting so sering muleh. titik pak de

Maskur - Januari 30, 2011

@Pak Bon
15 Tahun?
hebat, aku baru 5 tahun saja sudah ingin segera meninggalkan kota ini.
1/3?
Yah seperti itulah yang akan terjadi (padaku jug kah)….
Jika Kita Kehilangan Sesuatu Di Satu Sisi, Bisa Jadi Akan Mendapatkan Hal Lain Di Sisi Yang Lain Pula.

16. Bonsai Biker - Januari 30, 2011

siji

17. Bonsai Biker - Januari 30, 2011

2

18. Bonsai Biker - Januari 30, 2011

3

19. Bonsai Biker - Januari 30, 2011

@sobek2

angka 2 kok disobek ki bapak!!!

20. Bonsai Biker - Januari 30, 2011

betul pakde, saat aku mengajukan surat pengunduran diri di jkt aku dipaido ambek konco2ku, katanya ngapain pindh dengan gaji yang kecil tapi dlm hatiku aku punya sesuatu yg lain yang aku idam-idankan.

21. Bonsai Biker - Januari 30, 2011

urip iku koyo main catur, ngorbanin satu dapet yang lain, mungguhku gitu

22. xxl123 - Januari 30, 2011

sing paling penting aja klalen akherate :D

23. tiyo 2010 - Januari 30, 2011

dalam hidup dan mencari penghidupan ( baca : mencari sesuap nasi ) memang harus ada salah satu sisi yang harus dikorbankan, mo kumpul terus ama anak istri ( bisa sepanjang hari )tapi hidup pailit, mo dapat uang banyak, merantau ke kota besar, harus jauh dari anak dan istri……kalo saya sih emang dari awal niat kerja yang memungkinkan siang harinya bisa kumpul ama keluarga, cmiiw…..

24. sobek2 - Januari 30, 2011

@pakdhe maskur,
masih dalam proses tapi banyak gangguan dan pemecah konsentrasi hehehe tidak bisa ideal, kisanak
@pak bonsai,
di sobek biar dobel /jadi dua,
kisanak hehehe

25. A Seen Bonsai Biker - Januari 30, 2011

wakakaak sobek sekali ah

26. babad150f - Januari 30, 2011

lah..malah aku enggan pulkam ki kepriben..tapi aku punya planing sebelum umur 40 udah gak mau kerja..bisa gak bisa..

27. alrozzzi coolrider fixer 2 - Januari 31, 2011

:mrgreen: suka banget!


Balas Komen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.375 pengikut lainnya.