Cerita Mudikku 2 September 19, 2010
Posted by Maskur in CERITA, VIEW.Tags: bus, jalur selatan, mudik, terminal lebakbulus
trackback
Tahun 2007 adalah mudik kedua yang saya alami. Setelah mengalami kenangan kurang meng-enak-kan di mudik pertama saya, kali ini saya lebih waspada.

Untuk mudik kali ini saya bisa sedikit mendokumentasikan kondisi asli. Karena alhamdulillah sudah punya ponsel yang ada kameranya.
Masih menggunakan merk yang sama, tahun ini saya menggunakan Siemens S65. Walapun HP jadul namun setidaknya sudah ada fitur kamera digital.
Jika pada mudik tahun sebelumnya, saya pulang sore sehabis pulang kerja, kali ini saya pulang sehabis Subuh. Oh iya menurut data foto, waktu itu tanggal 10 Oktober 2007.
Berangkatlah saya dari Buncit menuju Terminal Lebakbulus kurang lebih pukul 05:00. Menggunakan Kopaja P20, yang ternyata di dalamnya sudah banyak penumpang dengan membawa tas besar dan barang bawaan. Wah pemudik juga rupanya.
Sampai di Terminal ternyata sudah ramai. Saya segera menuju loket bus Gapuraning Rahayu. Dan ternyata semua busnya sudah berjalan. Seperti biasa, ditawarkan ke bus pengganti. Waduh sama saja nih, pikir saya. Namun ternyata bus penggantinya bagus dan ber AC, walaupun cuma sampai Wangon, 25 km sebelum tujuan saya, kota Cilacap. Mengingat kejadian tahun lalu, saya pun mencatat nama bus dan nomor polisinya.

Tanpa pikir panjang saya terima opsi itu. Di bus ini saya mendapatkan tempat duduk di belakang sopir. Lumayanlah jadi bisa tahu jalan. Namun karena dulu nafsu ngeblog belum besar, jadi tidak sempat mengabadikan apa-apa yang ditemui di jalan.
Mudik tahun 2007 ini JORR dari Kampung Rambutan ke timur sampai Cikunir sudah dibuka. Jadi sangat menyingkat waktu. Perjalanan lancar, tidak mengalami macet. Di Nagreg yang terkenal dengan macetnya pun lancar.
Yang agak lambat justru setelahnya, seperti di Limbangan dan Ciawi, kendaraan padat merayap sampai panjang (karena jalan berkelok jadi terlihat kendaraan yang ada di depan). Penyebabnya cuma sederhana, yaitu dokar yang ada di pasar-pasar tradisional.
Akhirnya jam 17:00 saya sampai di Wangon dan melanjutkan perjalanan dengan bus kecil. Jam 17:00 adalah bus terakhir yang jalan ke Cilacap. Jika terlewat, berarti kita harus naik ojek dengan tarif 50 ribu.
Mudik tahun 2007 ini tidak ada sesuatu yang dramatis dan cerita yang luar biasa. Nah! Justru itulah yang diharapkan semua orang. Agar perjalanan lancar tanpa ada gangguan.
Pengalaman pahit di tahun 2006 membuat saya menyiapkan segala sesuatunya lebih baik. Seperti inilah hikmah dari suatu musibah, membuat kita lebih siap.
Setelah tahun 2007 ini saya tidak berada di Jakarta, jadi tidak ada cerita mudik 2008 dan 2009. Justru tahun 2010 saya merasakan mudik ketiga saya.






jadi pengen mudik
Hmmm…2006 berarti masih di “mampang” ya kang? terus th 2007 pindah ke “buncit” lalu th 2008 boyongan ke “semarang” eh 2010 mbalik maning ke “jakarta”, hikmah-nya bisa ketemu blogger terkenal sambil njajal NMP yg PERTAMAX xixixixi
Kalo aku baru 2 kota saja (semoga berikutnya langsung ke JATIM)
, 2003-2007 di bandung…2008-sekarang boyongan ke BMS
jadi inget, di kampus dulu hp berkamera macam s65 dan n3200 cuma 2 orang yang punya…
mmm kalo sekarang, mudiknya mabur pakdhe???
oww…brarti dulu habis dari mampang langsung ke semarang ya kang? tak kirain sempet di “pusat”nya dulu
tetep nggak pernah ngerasakan mudik!
mas kur njenengan di buncit sebelah mana deket aku je aku ps minggu, eh ngga nanya ding ya
isin aku
aku nek mudik bis sumber alam lan ramayana
Wedew mantap ceritanya mas….
bagi huawei ideos nya om..wkwkww
[...] Begitu waktu berbuka puasa tiba, saya telepon Taxi Express. Saya pesan taksi untuk tujuan Lebakbulus jam 04:00 pagi atau sehabis sahur. Saya kejar waktu sepagi mungkin agar tidak dapat bus bantuan seperti di mudik sebelumnya. [...]
Telat macane